Berani Melangkah, Belajar Bertumbuh, dan Memberi Dampak Bersama Genbi
Berawal dari kegagalan seleksi Beasiswa Bank Indonesia, saya belajar untuk bangkit dan mencoba kembali hingga akhirnya menjadi bagian dari GenBI. Melalui kegiatan Gengskuy, saya memberanikan diri mengambil peran dalam tim peralatan dan menghadapi berbagai tantangan, mulai dari mencari vendor, menyusun anggaran, hingga berkoordinasi dengan berbagai pihak. Pengalaman ini mengajarkan saya pentingnya komunikasi, kerja sama, dan keberanian untuk keluar dari zona nyaman. Bagi saya, keterlibatan di GenBI bukan sekadar tentang berkontribusi dalam sebuah kegiatan, tetapi juga tentang proses mengenali potensi diri, mengembangkan kemampuan, dan memberikan dampak positif bagi komunitas.
Saya merupakan anggota dari komunitas GenBI (Generasi Baru Indonesia), yaitu wadah bagi para penerima Beasiswa Bank Indonesia. Perjalanan saya bergabung dengan GenBI berawal pada semester tiga, ketika saya pertama kali mendaftarkan diri sebagai calon penerima Beasiswa Bank Indonesia. Namun, pada saat itu saya tidak berhasil lolos di tahap wawancara terakhir. Setelah kegagalan tersebut, saya sempat memutuskan untuk tidak mengikuti seleksi kembali karena ingin lebih fokus pada perkuliahan dan pekerjaan yang sedang saya jalani saat itu.
Namun, pada semester empat ketika pendaftaran Beasiswa Bank Indonesia kembali dibuka, saya memutuskan untuk mencoba lagi. Saat itu, saya merasa lebih percaya diri karena telah menyiapkan strategi baru untuk menghadapi setiap tahap seleksi. Selain itu, saya menyadari bahwa kegagalan bukanlah akhir dari segalanya, melainkan kesempatan untuk belajar, memperbaiki diri, dan bangkit kembali. Dengan tekad dan persiapan yang lebih matang, akhirnya saya berhasil lolos dan menjadi penerima Beasiswa Bank Indonesia selama empat semester.
Pada saat GenBI diberikan instruksi untuk membuat mini event di setiap kampus, kampus saya mengadakan kegiatan dengan nama Gengskuy. Event tersebut mengusung tema imbauan untuk menghindari judi online yang saat itu marak terjadi di kalangan muda. Saya memberanikan diri untuk bergabung sebagai bagian dari tim peralatan. Dalam rapat persiapan, saya mendapatkan gambaran mengenai berbagai hal yang perlu disiapkan, salah satunya adalah mencari vendor, karena saat itu saya belum memiliki jaringan di lingkungan kampus maupun sekitarnya. Dari situ, saya mulai menelusuri kebutuhan yang diperlukan untuk pelaksanaan acara.
Awalnya, saya merasa bingung dan khawatir karena belum pernah terlibat dalam kegiatan sebesar ini. Namun, saya berusaha untuk tetap percaya diri agar dapat menjalankan tanggung jawab dengan baik. Saya mulai mencari vendor dengan meminta rekomendasi dari beberapa teman di GenBI. Setelah mendapatkan satu vendor yang sesuai, saya melakukan negosiasi terkait kebutuhan panggung, sistem suara, serta frame yang memiliki detail cukup rumit, tetapi alhamdulillah dapat diselesaikan dengan baik.
Meskipun demikian, terdapat beberapa keputusan yang cukup sulit, seperti penggunaan videotron yang memerlukan kualitas layar tinggi dan biaya besar. Selain itu, setelah seluruh kebutuhan dibahas, pembina mendadak meminta tambahan dekorasi berupa mini garden di depan panggung. Saya juga menghadapi tantangan dalam mencari kursi audiens, yang cukup sulit ditemukan di wilayah Cirebon. Setelah melalui berbagai pertimbangan, akhirnya kami memutuskan untuk membuat kursi tersebut sendiri.
Melalui kegiatan ini, saya belajar untuk mengeksplorasi hal-hal baru yang belum pernah saya lakukan sebelumnya. Saya terjun langsung ke lapangan, menyusun rencana anggaran biaya, dan mengajukannya kepada bendahara. Pengalaman ini melatih kemampuan saya dalam berkomunikasi dan berkoordinasi dengan berbagai pihak, sehingga seluruh rangkaian kegiatan dapat diselesaikan dengan baik.
Apa yang mendorong Anda untuk terlibat?
Awalnya, saya hanya ingin berkontribusi tanpa mengetahui secara pasti apa tujuan saya. Namun, seiring berjalannya waktu dan semakin banyak persiapan yang saya lakukan untuk kegiatan tersebut, saya merasa semakin tertantang untuk mempelajari hal-hal baru yang biasanya dilakukan oleh laki-laki. Dari situ, muncul keinginan dalam diri saya untuk terus belajar dan mengembangkan kemampuan, tidak hanya untuk menyelesaikan tugas, tetapi juga untuk menambah pengalaman dan wawasan. Setiap proses yang saya jalani, mulai dari perencanaan hingga pelaksanaan, memberi saya banyak pelajaran berharga tentang kerja sama, tanggung jawab, dan pentingnya ketekunan. Saya merasakan kepuasan tersendiri ketika melihat hasil dari usaha yang saya lakukan, terlebih saat mengetahui bahwa kontribusi saya turut memberikan dampak positif bagi keberhasilan kegiatan tersebut. Dari pengalaman itu, saya belajar bahwa berbagi ilmu dan pengalaman kepada orang lain juga menjadi bentuk kepuasan tersendiri, karena melalui hal itu saya dapat menginspirasi orang lain untuk berani mencoba hal-hal baru dan terus berkembang
Langkah reflektif apa yang Anda lakukan agar keterlibatan tersebut memberi dampak bagi komunitas dan bagi pengembangan diri Anda sendiri? Bagaimana hasilnya?
Saya berusaha menjalin komunikasi yang baik dengan panitia lainnya karena divisi saya tidak dapat bekerja secara mandiri, melainkan membutuhkan koordinasi dengan seluruh panitia dan pihak-pihak terkait. Dari situ saya belajar bahwa kerja sama dan komunikasi menjadi kunci utama dalam menyukseskan sebuah kegiatan. Selain itu, saya juga terlibat dalam pembagian tugas dan tanggung jawab bersama panitia lainnya agar setiap pekerjaan dapat diselesaikan secara efektif dan efisien. Dalam pelaksanaannya, saya sempat menghadapi tantangan saat harus melakukan negosiasi dengan bagian bendahara untuk memperoleh anggaran uang muka (DP), mengingat kebutuhan dana untuk peralatan cukup besar. Namun, dari proses tersebut saya belajar untuk lebih berani berkomunikasi dan menyampaikan kebutuhan tim secara jelas. Saya juga belajar bernegosiasi dengan vendor agar mendapatkan kesepakatan terbaik tanpa mengurangi kualitas barang yang dibutuhkan. Untuk menjaga agar pekerjaan tetap terarah, saya bersama tim peralatan membuat skala prioritas sehingga semua langkah yang kami ambil menjadi lebih sistematis dan terukur. Hasilnya, seluruh kebutuhan, baik dari segi akomodasi maupun dekorasi, berhasil terpenuhi sesuai dengan rencana dan konsep yang telah kami susun. Pengalaman ini membuat saya menyadari bahwa keterlibatan aktif, kemampuan berkoordinasi, serta kesabaran dalam menghadapi berbagai dinamika merupakan hal penting yang membentuk saya menjadi pribadi yang lebih tangguh dan bertanggung jawab.
Bagaimana hasilnya?
Dari segi akomodasi, seluruh kebutuhan peserta dan panitia telah terpenuhi dengan baik. Tempat pelaksanaan kegiatan telah dipersiapkan secara optimal sehingga mampu menampung seluruh rangkaian acara dengan nyaman. Sementara itu, dekorasi acara juga berhasil diwujudkan sesuai dengan konsep yang telah direncanakan. Penataan ruangan dilakukan dengan memperhatikan aspek estetika dan kenyamanan, sehingga menciptakan suasana yang hangat dan mendukung semangat kebersamaan antar peserta. Elemen-elemen dekoratif yang digunakan tidak hanya memperkuat tema kegiatan, tetapi juga menambah daya tarik visual secara keseluruhan. Hasil kerja keras panitia pun terbayar ketika kegiatan berjalan lancar, tepat waktu, dan meninggalkan kesan positif bagi semua pihak yang terlibat. Saya merasa bangga dan bersyukur karena kegiatan tersebut bahkan sempat dimuat di media berita dan mendapat apresiasi dari para pembina serta rektor. Pujian tersebut menjadi bukti bahwa kerja keras dan kekompakan tim tidak sia-sia. Lebih dari itu, kegiatan ini juga menjadi contoh inspiratif bagi komunitas lain untuk melaksanakan kegiatan serupa, seperti Gengskuy, yang mengedepankan semangat kolaborasi dan kebersamaan. Pengalaman ini memberikan kepuasan tersendiri bagi saya, karena tidak hanya berhasil menyukseskan acara, tetapi juga dapat memberikan dampak positif dan motivasi bagi orang lain.
Tanggapan (0)
Belum ada tanggapan. Jadilah yang pertama menulis.